Selasa, 19 Oktober 2010

Haji dan Ukhuwah

REPUBLIKA - Sabtu, 16 Oktober 2010 pukul 14:01:00

Oleh Prof Dr Achmad Satori Ismail

Sudah merupakan ketentuan Ilahi, semua ibadah dalam Islam menyimpan berbagai hikmah nan mulia. Hikmah itu ada yang bersifat lahir, bisa diketahui setiap Mukmin, dan ada pula yang tersembunyi, hanya diketahui oleh orang-orang alim yang rasikh (mendalam ilmunya).

Haji termasuk ibadah yang hikmahnya bi sa dilihat secara kasat mata, seperti pengorbanan dengan harta dan jiwa, kepedulian pada sesama, dan lain sebagainya. Selain itu, haji pun memiliki banyak hikmah yang sulit kita indra, kecuali oleh para khawwas (ulama istimewa).

Haji mabrur atau diterima oleh Allah SWT adalah haji yang dilaksanakan secara sempurna dengan memenuhi semua syarat, wajib, dan rukunnya. Tidak ada rafats (bersebadan, omong kotor atau jorok), fusuq (kedurhakaan atau pelanggaran terhadap ajaran agama Allah), dan tidak ada jidal (bantah-bantahan) selama ibadah tersebut. (Al-Baqarah [2]: 197).

“Barang siapa yang melakukan ibadah haji karena Allah kemudian tidak berkata kotor dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan fasik atau durhaka, ia akan pulang tanpa dosa sebagaimana ketika ia dilahirkan ibunya. ( Muttafaq alaih).

Ibadah haji bila ditunaikan dengan syarat, rukun, wajib dan sunahnya secara baik akan menghasilkan Muslim bertakwa yang mencerminkan keindahan dalam semua sepak terjangnya.

Sasaran utama haji adalah membersihkan diri dari syirik dan pera ngai tercela, menghiasi diri de ngan akhlak terpuji, serta membekalinya dengan takwa.

Hikmah lainnya adalah mempererat persaudaraan, baik dari aspek sosial, politik, eko nomi, dan agama. Islam adalah agama ukhu wah dan kesatuan: akidah, perasaan, dan pendapat. (QS Al-Anbiyaf [21]: 92)

Semua manasik yang disyariatkan dalam haji merealisasi ukhuwah Islamiyah. Se tiap jamaah yang berihram berpakaian sama, tidak ada perbedaan.

Ibadah haji memberikan peringatan abadi kepada setiap Muslim bahwa mereka adalah umat yang satu, dengan kiblat, kitab, dan manasik yang satu. Mereka be rtemu di Masyfaril Haram terus ke Arafah dan berkumpul di padang Arafah untuk bertaaruf, menebar kasih sayang, untuk memperkokoh ukhuwah Islamiyah.

Meski ibadah haji bisa diselesaikan dalam tiga hari, Allah memberikan waktu cukup panjang, yaitu Syawal , Dzulqadah, dan Dzulhijjah. Supaya umat Islam menyaksikan berbagai hikmah dalam ibadah haji.
(-)

Tadabur Bencana

Kamis, 14 Oktober 2010 pukul 08:45:00


Oleh Hilman Hakiem Hafidhuddin

Berbagai musibah dan bencana kembali menimpa saudara-saudara kita di sejumlah daerah. Salah satunya bencana banjir bandang yang melanda Kota Wasior, Papua Barat. Sekitar 147 orang meninggal dunia, 103 orang masih hilang, dan ribuan orang mengalami luka-luka akibat bencana itu. Ditambah lagi kerugian material yang cukup besar. Bencana ini telah menambah panjang daftar musibah yang telah menimpa bangsa kita.

Tidak ada suatu bencana dan kejadian apa pun di dunia ini, kecuali memang atas kehendak dan izin Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Hadid [57]: 22-23. "Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."

Setidaknya, ada dua pesan penting dari ayat tersebut yang harus terus-menerus kita tadabburi (direnungkan). Pertama, menambah serta memperkuat keimanan dan keyakinan kepada Allah SWT. Dialah satu-satunya Zat yang mengendalikan dan mengurus alam semesta ini, termasuk manusia di dalamnya. Sebagai contoh, kita diperintahkan untuk berikhtiar atau berusaha dengan semaksimal mungkin (misalnya dalam membangun sarana dan prasarana serta infrastruktur dalam konteks membangun bangsa), tetapi hasil akhirnya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Ketundukan hati dan pikiran terhadap segala aturan-Nya merupakan sebuah keniscayaan. Kita tidak boleh sombong dan arogan menolak aturan dan ketentuan-Nya, termasuk tidak boleh mengeksploitasi alam ciptaan-Nya tanpa kendali hanya untuk memuaskan keserakahan hawa nafsu serta memperkaya diri dan kelompok. Kerusakan alam semesta ini sebagian besar diakibatkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, sebagaimana firman-Nya dalam QS Ar-Ruum [30]: 41.

Kedua, memperkuat kembali semangat solidaritas dan kesetiakawanan sosial di antara sesama komponen bangsa. Musibah sejatinya sering serta dapat merekatkan dan mendekatkan hati di antara sesama umat manusia. Rasa empati dan simpati serta keinginan untuk membantu sesama biasanya terbangun dengan baik. Penderitaan dan musibah mereka adalah musibah kita semua.

Karena itu, marilah berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar semua musibah yang telah menimpa ini membuat kita menjadi bangsa yang kuat imannya dan baik pertahanan dirinya, sekaligus memperkuat solidaritas dan kesetiakawanan sosial antarsesama anak bangsa. Wallahu A'lam.

Rabu, 22 September 2010

Menyoal Aktivis Islam

Republika Online
13 Syawal 1431 H
22 September 2010
Pendaftaran | Login

Sabtu, 18 September 2010 pukul 15:54:00


Oleh: Nuim Hidayat (Mantan Aktivis Hizbut Tahrir)

"Mereka yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik. Mereka itulah yang Allah beri petunjuk dan mereka itulah Ulil Albab." (QS Az-Zumar 18).
Bila kita cermati, saat ini para aktivis mahasiswa Islam terkotak-kotak dan mayoritas cenderung fanatik terhadap organisasi atau gerakannya. Aktivis HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), misalnya, bangga berlebihan terhadap kelompoknya dan 'hanya' menjadikan Taqiyuddin an Nabhani sebagai rujukan utama pembinaannya.

Begitu juga, aktivis mahasiswa Ikhwanul Muslimin di Indonesia--yang sebagian besar menginduk pada Partai Keadilan Sejahtera. Mereka sudah merasa cukup bila sudah dibina dengan kitab-kitab dari Hasan al Banna atau tokoh Ikhwan lainnya. Hal yang sama terjadi pada gerakan Salafi Wahabi atau Salafi Haraki. Gerakan-gerakan yang sangat ketat dalam berpedoman pada Alquran dan sunah dan cenderung 'mengesampingkan' ijtihad. Gerakan Salafi Wahabi lebih banyak berfokus pada hal-hal bid'ah dan sunah. Buku yang menjadi rujukan utamanya adalah karya Nashirudin al Albani. Sedangkan gerakan Salafi Haraki banyak berkutat pada solidaritas dunia Islam karena penjajahan fisik Amerika dan sekutunya. Buku yang menjadi pedoman utamanya adalah karya Sayid Qutb dan Abdullah Azzam.

Pergerakan mahasiswa di Muhammadiyah (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) atau Nahdhatul Ulama (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) kurang lebih sama. Di PMII cenderung menjadikan Gus Dur sebagai rujukan utama dan sebagian condong ke 'Islam Liberal'. Gerakan KH Wachid Hasyim tidak menjadi inspirasi utama mahasiswa-mahasiswa PMII. Situasi yang sama mirip dengan mahasiswa IMM.Gerakan KH Ahmad Dahlan belum menjadi teladan sentral dalam gerakan IMM, meski kini dicoba dengan membuat film dan memperbanyak buku tentangnya. Mahasiswa-mahasiswa Muhammadiyah cenderung terpecah-pecah sumber gerakannya dan sebagian ada yang terjangkit 'liberal'.

Gerakan-gerakan mahasiswa tahun 80-90-an, menurut penulis, cenderung lebih terbuka dan intelektual daripada saat ini. Diperlakukannya NKK-BKK, ketika mahasiswa tidak boleh terlibat dalam politik praktis, menjadi berkah bagi mahasiswa untuk fokus pada kajian keislaman yang lebih serius. Saat itu buku-buku dari IIFSO, yang banyak terinspirasi Mohammad Nastir, menjadi rujukan banyak aktivis mahasiswa Islam. Buku-buku Sayyid Qutb, Yusuf Qaradhawi, Abul Ala Maududi, Ali Syariati menjadi kajian-kajian serius di kalangan mahasiswa dan menimbulkan semangat 'militansi' yang hebat untuk melawan imperialisme/pemikiran Barat. Begitu pula buku-buku karya Mohammad Natsir, Deliar Noer, Rasjidi menjadi kajian penting dalam membentuk perspektif perjuangan mahasiswa Islam di Indonesia.

Semangat membentuk dan memperbaiki masyarakat Islam yang 'modern' menjadi dambaan dan tujuan mahasiswa. Hampir tidak ditemui saat itu aktivis mahasiswa yang gampang membid'ahkan masyarakat atau aktivis mahasiswa yang menutup telinga bila yang ceramah bukan dari harakahnya.

Kini banyak ditemui aktivis mahasiswa Islam yang 'kaku' dalam pemikiran. Memang mereka tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena yang membuat mereka demikian adalah para guru/ustaz yang mengajarinya. Para ustaz mereka ada yang hanya membolehkan membaca buku-bukunya atau buku-buku yang seide dengan ustaz itu (guru-gurunya). Bila ada buku lain yang bertentangan atau mengkritik pemikiran ustaz itu, ustaz tersebut melarang muridnya untuk membacanya. Ada sebuah kejadian, seorang aktivis memarahi penjual buku yang memajang buku Syekh Yusuf Qaradhawi di lapaknya. Dikatakan bahwa Qaradhawi itu hanya menggunakan akalnya dalam bukunya. "Kurang nyunnah" istilahnya atau "Ia kan bukan ahli hadis", begitu biasanya aktivis Salafi Wahabi berucap. Penulis temui pula ada sebuah kelompok harakah yang melarang aktivis mahasiswanya mendengarkan ceramah beberapa ustaz (ahli dalam pemikiran Islam), hanya karena para ustaz itu tidak masuk dalam kelompok harakah mereka.

Sehingga, kini banyak ditemui mahasiswa yang jumud terhadap pemikiran atau gerakan-gerakan Islam. Mereka hanya tahu pemikiran dan gerakannya. Tidak memahami dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada gerakan Islam lain.

Bila ditelaah secara mendalam, kecenderungan gerakan saat ini yang 'ashabiyahnya sangat tinggi' ini adalah sangat mengkhawatirkan. Para ustaz dari Timur Tengah yang banyak tidak paham sejarah penyebaran Islam atau gerakan Islam di Indonesia banyak yang gegabah mengajari mahasiswa atau santrinya sejak awal bid'ah dan sunah. Bukan mengajari mereka bagaimana menjaga akidah Islam yang kokoh di tengah serbuan liberalisme saat ini, bagaimana perjuangan Islam yang tepat di Indonesia, bagaimana memperbaiki masyarakat Islam Indonesia, bagaimana membentuk peradaban Islam di Indonesia, dan lain-lain. Sehingga, yang terjadi sebenarnya adalah gerakan setback ke belakang, yang meributkan kembali hal-hal fikih yang furu'. Tidak sedikit sekarang aktivis Islam yang mengharamkan musik, maulid, organisasi politik, dan lain-lain. Padahal, masalah-masalah seperti ini telah dibahas (diperdebatkan) ulama sejak lama. Para ulama telah membahas kebolehan musik dan syarat-syarat musik atau syair yang dibolehkan dan sebagainya. Ketika kaum Muslimin di puncak peradaban Andalusia (abad ke-8 hingga abad ke-15) ada tradisi musik Islam di sana.

Saatnya kini para mahasiswa dan khususnya para ustaznya mau mempelajari dengan serius pemikiran dari tokoh-tokoh gerakan Islam lain. Anak-anak mahasiswa IMM atau PMII mau membaca serius buku-buku karya Taqiyuddin an Nabhani (pendiri Hizbut Tahrir) dan Hasan al Banna (pendiri Ikhwanul Muslimin). Para aktivis Hizbut Tahrir atau Ikhwanul Muslimin mau mengkaji saksama buku-buku Ahmad Dachlan, Wachid Hasyim, Mohammad Natsir, atau Mohammad Roem. Begitu pula para aktivis Salafi mau mempelajari buku-buku Hamka, Raja Ali Haji, tokoh-tokoh Ikhwan, atau Hizbut Tahrir.

Bila ini dilakukan, insya Allah gerakan mahasiswa Islam Indonesia akan menjadi 'leader' bagi arah Indonesia ke depan. Dan, bukan mustahil aktivis mahasiswa Islam Indonesia akan menjadi pemimpin bagi aktivis-aktivis mahasiswa Islam di seluruh dunia. Karena di belahan dunia lain pun terjadi kecenderungan gerakan mahasiswa yang kurang lebih sama dengan yang terjadi di Indonesia.

Tokoh-tokoh gerakan Islam itu adalah mutiara-mutiara Islam. Sayang bila kita hanya mengambil satu mutiara. Sedangkan sebenarnya kita bisa mengambil banyak mutiara untuk kita manfaatkan secara optimal. Apalagi sekarang di era 'kebebasan informasi', era internet. Saat kita bisa membaca buku-buku karya tokoh-tokoh itu hanya sekali klik dalam internet. Jadi, bagaimanapun para ustaz yang membatasi muridnya untuk mengkaji pemikiran gerakan-gerakan lain, ibaratnya sebenarnya seperti melarang seorang konsumen untuk memilih minuman yang terbaik baginya, ketika berkunjung ke supermarket. Tentu agar konsumen bisa memilih tepat minuman itu, ia harus dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang manfaat vitamin, kegunaan air bagi tubuh, dan
lain-lain.

Kita bisa mengambil pelajaran dari sejarah pemikiran atau kemajuan Barat. Mengapa mereka begitu melesat maju sekarang ini (terlepas kemajuan arahnya benar atau tidak)? Karena pemikir-pemikir Barat tidak fanatik buta terhadap pendapat pemikir-pemikir besar pendahulu mereka. Mereka meramu pemikiran Aristoteles, Plato, Aquinas, Hobbes, Adam Smith, Faucault, dan lain-lain. Mereka tidak mati-matian mempertahankan pendapat salah satu pemikir mereka, bila ditemui pemikir Barat lainnya yang lebih baik.

Akhirnya, ulama besar Hamka dalam Tafsir Al Azharnya, memberikan nasihat: "Berapa banyak kita banggakan sejarah, sedikit-sedikit sejarah kebesaran Islam, sejarah ulama Islam, sejarah kemenangan Islam. Dan semuanya itu memang benar, tetapi semuanya adalah bekas usaha umat yang telah lalu. Kalau mereka beroleh pahala dari usaha itu, tidaklah kita yang datang di belakang ini yang akan menerimanya. Kita hanya menerima bekas dari usaha kita sendiri. Adalah amat membosankan membangga-banggakan zaman yang telah lampau, dari usaha orang lain sehingga masa hanya habis dalam cerita, tetapi tidak dapat menunjukkan bukti dan usaha sendiri. Inilah penyakit umat yang telah masuk ke dalam lumpur. Kata pepatah ahli syair: "Orang muda sejati ialah yang berkata: Inilah Aku. Bukanlah orang muda sejati yang berkata: Bapakku dahulu begini dan begitu."

Rabu, 18 Maret 2009

Agar Pesan Sampai Ke Hati

Seorang pasien penderita penyakit kanker terbaring di atas tempat tidur di
sebuah rumah sakit yang entah rumah sakit ke berapa yang pernah disinggahinya.
Dan kali ini pun hasil yang didapat tidak jauh berbeda dengan perawatan
sebelumnya. Bahkan dokter yang menanganinya sempat menghampirinya. Sambil
mengangkat kedua tangannya ia berkata kepada si pasien, bahwa seluruh upaya
medis telah ditempuh. Karena kondisi penyakit yang sangat kritis, agaknya
harapan untuk sembuh sangat tipis.

Bisa dibayangkan bagaimana reaksi pasien tersebut.
Sedih, gelisah, depresi, tidak ada lagi gairah dan upaya.
Berbeda halnya jika si dokter yang merawatnya itu mengatakan hal lain,
kondisinya memang sangat parah, namun, menurutnya, masih ada harapan untuk
sembuh. Tentu si pasien sangat bergembira mendengarnya. Kata-kata dokter itu
akan mempengaruhi semangatnya untuk sembuh.

Kata-kata mempunyai kekuatan yang luar biasa.
Bahkan terkadang ia lebih ampuh daripada senjata.
Dalam hal ini pepatah lama masih relevan, bahwa lidah lebih tajam daripada
pedang.
Betapa sering sebuah perang berkobar disebabkan oleh kata.
Demikian pula sebaliknya, perang dapat dihentikan oleh sebuah diplomasi atau
secarik kertas perjanjian damai.
Seorang penulis wanita Jerman, Annemarie Schimmel, berbicara tentang kekuatan
kata. "Kata yang baik laksana pohon yang baik.
Kata diyakini sebagai suatu kekuatan kreatif oleh sebagian besar agama di dunia;
katalah yang mengantarkan wahyu; kata diamanahkan kepada umat manusia sebagai
titipan yang harus dijaga, jangan sampai ada yang teraniaya, terfitnah, atau
terbunuh oleh kata-kata."

Karena kata-kata seseorang bisa bergairah, bersemangat, terhibur dari duka,
seorang pasien akan mempunyai harapan sembuh oleh kata-kata dokter.
Yang terkadang kondisi sesungguhnya berlawanan dengan kata-kata itu, sekadar
untuk menerbitkan semangat.
Juga karena kata-kata, hati yang tadinya cerah berbunga-bunga menjadi redup
sedih. Tadinya optimis menjadi pesimis. Bersemangat menjadi patah arang.

Kata-kata sebagai alat yang ampuh untuk berbagai kepentingan orang. Melobi,
mempengaruhi, merayu, menghina, melecehkan, membalaskan sakit hati. Dan kata
orang, ia adalah senjata bermata dua.

Jika kata-kata itu keluar dari orang baik dan suka melakukan perbaikan, maka
dampak yang ditimbulkannya akan positif. Namun jika ia diungkapkan oleh orang
jahat dan mencintai tersebarnya kejahatan di muka bumi ini, dampak yang
ditimbulkannya tentu kejahatan itu sendiri sebagai produk hatinya yang jahat
itu.

Seorang dai dengan tugas dakwahnya mengajak orang kepada Allah dalam taat dan
ibadah kepada-Nya. Aktivitas dakwahnya sangat didominasi oleh penyampaian
kata-kata. Sebab sasaran yang hendak dituju adalah akal manusia itu sendiri.
Jika tujuan dakwah adalah melakukan perubahan (taghyir), maka faktor utama yang
dapat mempengaruhi proses perubahan adalah akal pikiran.

Dengan adanya perubahan pada tataran pemahaman dan pola pikir, maka perubahan
persepsi dan tingkah laku bisa terjadi.

Penyampaian kata-kata bahkan menjadi titik tekan tugas para nabi dan rasul.
Seperti yang Allah tegaskan kepada Rasulullah saw. Allah berfirman, "Jika mereka
berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka.
Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah)." (As-Syura: 48).

Sebagai penerus tugas para nabi dan rasul, seorang dai berdakwah menyampaikan
risalah kepada manusia. Hendaknya ia selalu meningkatkan kemampuan dan
kreativitasnya dalam memasarkan risalah ini kepada manusia. Berbagai kajian dan
petunjuk tentang kata-kata dan ceramah yang berkesan telah banyak ditulis para
ulama.
Namun muaranya tidak jauh berputar pada beberapa poin berikut ini:

1. Kuatnya Hubungan dengan Allah
Hubungan yang menguatkannya, yang menjadi rujukan, tempat menyandarkan diri,
kepada-Nya ia mengadu, berdoa, dan berbagi. Seorang dai mengajak orang lain
menuju Allah. Bagaimana mungkin ia dapat mengajak kepada sesuatu jika ia sendiri
jauh dengannya dan lemah hubungannya dengan sesuatu itu. Syeikh Muhammad Ghazali
menyebutkan sifat ini sebagai pilar utama seorang dai, yang tidak boleh
diabaikan. Sebab jika setiap muslim berkewajiban membina hubungan baik dengan
Allah, apatah lagi seorang dai.

Sejarah telah menjadi saksi bahwa tidak ada seorang nabi pun atau pelaku
perbaikan kecuali ia mempunyai hubungan yang kuat dengan Allah. Jalinan mereka
dengan Allah sangat kuat, hidup, dan selalu segar. Tidak pernah putus barang
sekejap pun dan tidak pernah layu. Terlihat dalam aktivitas kesehariannya, saat
bersama orang lain terlebih saat sendiri. Syeikh Abdurrahman As-Sa'ati, ayah
Imam Syahid Hasan Al-Banna mengisahkan kegiatan anaknya ketika berada di rumah,

"Di antara akhlaqnya adalah berpaling dari banyak orang dan hanya menyendiri
bersama Rabbnya, tidak ada yang tahu selain keluarga dekatnya saja. Di rumahnya
–Allah yang menjadi saksi- tidak pernah lepas dari mushaf, tidak berhenti
membaca, tidak pernah lalai dari zikir, ia membaca Al-Qur'an memperdengarkan
bacaannya kepada salah seorang hafizh di antara kami. Jika tidak ada seorang
hafizh kecuali anak kecil, ia pun muraja'ah hafalannya dengan anak itu. Rumahnya
penuh dengan bacaan Al-Qur'an, sujud, larut dalam dzikir, dan mendaki ke
ketinggian langit spiritual.. Ketika ia tahu cara Nabi membaca Al-Qur'an maka ia
praktekkan, termasuk waqaf-waqaf di mana Rasulullah berhenti, ia pun berhenti.
Terkadang badannya gemetaran, hatinya penuh ketakutan, gelisah pada ayat-ayat
ancaman, terhadap ayat-ayat gembira ia berbinar-binar, jauh dari suasana di mana
ia hidup, jauh terbawa makna ayat-ayat itu."

Dan semua orang yang pernah mendengar pidatonya mengakui, betapa Imam Syahid
mempunyai kata-kata yang sangat kuat.

"Jika ia berpidato, kata-katanya mengalir seolah-olah turun dari langit."

Kata seseorang yang pernah menghadiri ceramahnya.

2. Selalu Memperbaiki Diri
Setiap muslim wajib memperbaiki diri dari segala kekurangan. Apalagi seorang
dai. Boleh jadi ini merupakan hasil dari hubungan yang baik dengan Allah.. Sebab
siapa yang mengingat Allah ia akan teringat akan semua dosa dan kekurangan
dirinya serta menyadari semua aib pribadinya. Berbeda halnya dengan orang yang
lalai dari zikir. Ia pun akan lalai kepada Allah bahkan lalai kepada dirinya
sendiri. Ia berjalan tanpa arah dan petunjuk. Allah berfirman,

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah
menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang
fasik." (Al-Hasyr:19)

Sangat berbahaya jika seorang dai mengajak orang melakukan sesuatu sementara
dirinya sendiri jauh darinya. Atau mencegah orang dari melakukan sesuatu ia
sendiri belum bisa terlepas darinya. Jika demikian, maka seruan dakwah yang
dikumandangkannya tak nyaring lagi. Seseorang berkata, "Kalau saya melihat
seorang dai merokok, kepercayaan saya kepadanya berkurang dua puluh lima
persen."

Bahkan, tidak hanya ajakannya yang diabaikan orang, ia bisa mendapatkan murka
dari Allah.

"Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak
kamu kerjakan." (As-Shaf:3)

Tentu saja hal ini tidak dipahami secara tidak konstruktif, dengan menyibukkan
diri sendiri serta tidak peduli kepada perbaikan sekitarnya. Aslih nafsaka wad'u
ghairaka (perbaiki dirimu dan ajaklah orang lain), begitu kata orang.

3. Kecerdasan Akal, Kebersihan Hati, dan Pemahaman yang Dalam tentang Islam
Sifat ini hendaknya menjadi watak seorang dai. Yang dengan demikian ia bisa
menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Menimbang persoalan dengan timbangan
yang benar dan tidak memihak. Dalam bahasa dakwah hal ini bisa disebut sebagai
hikmah. Seperti yang Allah firmankan,

"Allah menganugerahkan Al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur'an dan As
Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki- Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi
hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya
orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)."
(Al-Baqarah: 269)

Menurut Muhammad Al-Ghazali, kecerdasan yang dimaksud, seseorang tidak perlu
menjadi jenius. Namun hanya dengan memiliki kemampuan melihat suatu permasalahan
apa adanya. Tidak menambah maupun mengurangi. Dengan cara pandang seperti ini
seorang dari dapat mendiagnosa sebuah persoalan dengan baik dan pada gilirannya
bisa memberikan terapi yang tepat sesuai dengan permasalahan yang dihadapinya.
Kata-kata yang disampaikannya menjadi tepat sasaran.

Dengan kemampuan seperti inilah Rasulullah terlihat menyampaikan nasihat yang
berbeda-beda, melihat kondisi dan latar belakang psikologis seseorang yang
konsultasi kepada beliau. Suatu saat beliau hanya mengatakan, "Janganlah kamu
marah." Dan Jariyah bin Qudamah, orang yang bertanya itu pun puas dengan jawaban
beliau. Bahkan menurut riwayat Thabrani, pahalanya surga, seperti yang beliau
sabdakan, "Janganlah kamu marah, maka akan mendapat surga." Suatu saat beliau
hanya mengatakan, "Katakan, aku beriman kepada Allah. Lalu istiqamahlah. "

Kebersihan hati yang dimaksud tentu bukannya kebersihan hati yang setaraf dengan
para malaikat. Cukuplah bagi seorang dai memiliki hati yang penuh cinta kepada
manusia, cemburu kepada mereka, lembut dan tidak kasar memperlakukan mereka. Ia
senang dengan kebaikan mereka dan bukannya senang melihat kesengsaraan mereka.
Di hadapannya maupun tidak sikapnya selalu sama. Senantiasa berharap atas
kebaikannya. Sehingga antara hatinya dan hati mereka terhadap tali yang
menghubungkan. Ketulusan cintanya melahirkan getar saat tangannya berjabat,
mulutnya berucap, dan matanya menatap. Doa yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan
mereka membuat nama-nama mereka selalu hadir dalam hidupnya. Sehingga ketika
bertemu, pertemuan itu pun terasa hangat dirasakan oleh mereka.

Kejelasan pemahaman dimiliki karena penguasaannya terhadap konsep universalitas
Islam. Hal ini membuatnya mampu mengidentifikasi setiap persoalan. Ia dapat
membedakan mana yang bisa dikategorikan sebagai persoalan aqidah dan mana yang
bukan. Dengan hal ini pula seorang dai dapat berinteraksi dengan semua lapisan
masyarakat dan dapat melihat kekurangan serta kelebihan mereka. Ia juga memiliki
skala prioritas dalam dakwahnya.

Dalam menyikapi berbagai perpecahan madzhab dan aliran di Mesir, Hasan Al-Banna
dengan Ikhwannya mempunyai sikap yang jelas. "Karena Ikhwan meyakini bahwa
perbedaan dalam hal-hal furu' adalah sebuah keniscayaan. Harus terjadi. Sebab
prinsip-prinsip Islam yang berupa ayat-ayat, hadits, amal Nabi bisa dipahami
secara berbeda. Oleh karenanya perbedaan semacam ini juga terjadi di kalangan
para sahabat. Dan perbedaan itu terus terjadi sampai hari Kiamat. Alangkah
bijaknya Imam Malik ra saat ia berkata kepada Abu Ja'far yang ingin memaksa
orang mengikuti buku Al-Muwattha' , "Para sahabat Rasulullah berpencar di
negeri-negeri. Masing-masing kaum mempunyai ilmu. Jika Anda memaksa mereka
kepada satu ilmu, akan terjadi fitnah." Tidak ada salahnya dengan perbedaan,
namun yang salah adalah sikap fanatik terhadap pendapat tertentu dan menutup
diri dari pendapat orang lain. Cara pandang semacam ini dapat menyatukan hati
yang bersengketa ke dalam kesatuan fikrah.

Cukuplah orang-orang bersatu menjadi muslim sebagaimana yang dikatakan Zaid r.a.

Pandangan seperti ini sangat penting dimiliki sebuah jamaah yang ingin
menyebarkan fikrah pada suatu negeri di mana yang dilanda sebuah konflik tentang
masalah yang tidak semestinya diperdebatkan. "

4. Keikhlasan
Keikhlasan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi setiap muslim dalam ibadahnya
kepada Allah. Sebab ia sebagai syarat diterimanya ibadah. Ibnu Atha'illah
berkata, "Amal perbuatan merupkan tubuh yang tegak. Sedangkan ruhnya adalah
adanya rahasia di balik amal yang berupa keikhlasan." Terlebih lagi bagi seorang
dai dan aktivis. Aktivitas dakwahnya adalah sebaik-baik amal dan sarana taqarrub
kepada Allah, tentu keikhlasan menjadi lebih urgen lagi. Seorang da'i hendaknya
menjauhkan kepentingan pribadi yang berupa sebutan, imbalan, dan pengaruh
pribadi karena aktivitas dakwahnya.

Keikhlasan tentu saja ada buahnya. Aktivitas dakwah yang dilandasi dengan
keikhlasan tentu berbeda hasilnya dengan yang dilakukan karena pamrih. Bersamaan
dengan kata-kata yang diucapkan, interaksi yang dilakukan, dan kegiatan yang
dilaksanakan seorang dai selalu menambatkan hatinya kepada Dzat yang menguasai
dan membolak-balikkan hati. Kata orang Arab, "Kata-kata yang keluar dari hati
akan sampai kepada hati pula."

Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima selain
kebaikan." Bagi seorang dari, kebaikan yang hendak dipersembahkan kepada Allah
adalah keyakinannya terhadap keutamaan dakwahnya dan harapannya yang ditambatkan
kepada ridha Allah semata.

5. Keluasan Wawasan
Dakwah di zaman modern sekarang ini harus didukung oleh keluasan wawasan. Karena
seorang dai bertugas mengarahkan dan membimbing manusia dengan segala strata
sosial dan intelektual mereka. Ia berbicara dengan dokter, pasien, guru,
pegawai, kuli, insinyur, pedagang, orang pintar, dan orang bodoh. Mestinya ada
penguasaan wawasan yang dapat memasuki pola pikir mereka semua.

Tidak harus menguasai semua disiplin ilmu secara mendalam, namun wawasan global
tentang berbagai persoalan hendaknya dipahami. Kecuali wawasan keislaman yang
secara asasi harus dikuasai. Pemahaman terhadap Al-Qur'an dan Sunnah serta
wawasan keislaman lain; budaya Islam, sejarah Islam, dan lain-lain. Oleh karena
itulah Imam Syahid Hasan Al-Banna memberikan tekanan khusus kepada sisi ini dan
itu sebagai salah satu karakter dakwahnya. Bahwa dakwah Ikhwan juga bercirikan
Jamaah Ilmiyah Tsaqafiyah (organisasi ilmu pengetahuan dan wawasan). Dan semua
sarana yang dimilikinya pada dasarnya untuk membina intelektual, hati, dan jasad
para anggotanya.

Keluasan wawasan yang dimiliki seorang dai membuatnya mampu menemukan `pembuka
hati' bagi orang-orang yang menjadi objek dakwahnya. Ketika berkomentar tentang
wawasan Abu Bakar yang paling tahu tentang nasab suku Quraisy dan paling tahu
tentang apa yang baik dab buruk mereka, Munir Muhammad Al-Ghadhban berkata,
"Pengetahuan tidak kalah penting daripada akhlaq. Yang dituntut dalam masalah
ini bukan segala macam pengetahuan. Tetapi pengetahuan mengenai masyarakat dan
kecenderungan- kecenderungannya . Pengetahuan yang menjelaskan karakteristik jiwa
manusia. Pengetahuan inilah yang akan memberikan daya gerak kepada dai yang
merupakan pintu masuk ka hati mad'u. Setiap hati memiliki `kunci', dan tugas
seorang dai adalah untuk mendapatkan kunci itu agar ia bisa memasuki hatinya
lalu hati itu menyambutnya. "

6. Menguasai Metodologi Komunikasi
Sebab ada pepatah Arab mengatakan, likulli maqam maqal (bagi masing-masing momen
ada ungkapannya) . Dan masing-masing orang memiliki kecenderungan terhadap satu
bentuk komunikasi tertentu. Ada yang suka dengan gaya bicara yang berapi-api.
Ada yang tertarik dengan ceramah yang banyak `lawak'nya. Ada pula yang tidak
suka terhadap hal-hal yang monoton dan serius dan ia lebih suka kalau ceramah
banyak diselingi ilustrasi. Kemampuan memilih model komunkasi yang tepat akan
menjadi daya tarik yang dapat menggait hati. Rasulullah saw bersabda,
"Sesungguhnya kejelasan (komunikasi) adalah sihir."

Al-Bahi Khauli merekomendasikan kepada seorang da'i agar menggunakan beberapa
metodologi dalam aktivitas dakwah yang dilakukannya. Di antaranya adalah:

1. Kisah: karena dengan kisah sesuatu yang bersifat normatif bisa lebih mudah
dipahami. Karena nilai-nilai itu berubah menjadi kaki yang berjalan, tangan yang
bergerak, dan mulut yang berucap. Barangkali inilah di antara rahasia Al-Qur'an
yang menggunakan metode kisah sebagai salah satu sarananya. Agar Islam dapat
dipahami sebagai agama yang realistis dan tidak hanya bersifat kelangitan tanpa
bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Terbukti para pelaku sejarah itu mampu
melakukannya. Di samping ia juga menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman.

2.. Perumpamaan: karena dengan perumpamaan dapat mendekatkan yang jauh dan
menjelaskan yang buram, juga menentukan kadar sesuatu yang abstrak. Al-Qur'an
dan hadits sendiri seringkali menggunakan perumpamaan sebagai sarana menjelaskan
kepada kaum Muslimin tentang ajaran Islam. Tentang hakikat amal perbuatan
orang-orang kafir Allah berfirman, " Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka
adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh
orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya
sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah
memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat
cepat perhitungan- Nya." (An-Nur:39)

3. Perbandingan: dan tujuannya adalah untuk menjelaskan kadar keterpautan sebuah
nilai. Dalam salah satu sabdanya Rasulullah bersabda, "Shalat berjamaah lebih
mulia daripada shalat sendiri dengan selisih dua puluh tujuh derajat." Juga
sabda beliau, "Perbandingan antara orang berilmu dan yang tidak berilmu seperti
perbandinganku dengan sahabatku yang paling rendah (pengetahuannya. "

7. Berdoa
Setelah seluruh upaya dan sarana dikerahkan untuk menggait orang menuju Allah
dalam aktivitas dakwah, seorang dai tidak boleh menyandarkan hasil kepada
kemampuan dan upayanya. Upaya itu harus dikembalikan kepada Allah yang menguasai
hati dan pikiran. Ini akan menjaganya dari sikap ghurur apabila dakwahnya
mendapatkan kemenangan dan menjauhkannya dari berputus asa jika menemui
kegagalan. Sebab ia yakin, seberapa hebat sarana yang dikuasainya, ia hanyalah
senjata bisa mengenai sasaran dan bisa tidak. Doa juga dapat menutupi segala
kekurangan dan kelemahannya. Sebab tidak ada orang yang memiliki semua dan
menguasai segalanya secara ideal. Adakalanya seseorang memiliki kelebihan pada
satu sisi, namun ia juga memiliki kekurangan pada sisi lain. Dan berdoa adalah
ibadah. Adalah senjata seorang mukmin di saat senjata lain tidak mempan.
Ketajaman doa dapat menembus sesuatu yang tidak bisa ditembus senjata biasa.

8. Selanjutnya, Hidayah dari Allah
Karena dai hanya menyeru dan menggerakkan potensi yang diberikan Allah.
Selanjutnya hasilnya dikembalikan kepada Allah. Sebuah kegagalan, selain harus
disikapi secara proporsional dengan melakukan evaluasi aktivitas dakwah dan
motivasi amal da'awi, tentu harus dikembalikan kepada kehendak Allah yang berhak
memberi hidayah atau tidak memberi. Dan tentu saja tidak berhenti di situ.
Optimisme harus selalu ditanamkan dalam diri seberat apapun medan dakwah yang
dilalui. Sebab perjalanan belum berakhir. Hidup manusia tidak berhenti sampai di
sini. Masih ada harapan untuk berubah dan kembali ke jalan yang benar.

Dengan pemahaman inilah kita tidak pernah menganggap Nabi Nuh gagal dalam
dakwahnya. Luth gagal.. Shalih gagal. Sebab semua sarana dan prasarana telah
dikerahkan untuk mengetuk pintu hati mereka. Rasulullah juga tidak pernah gagal
ketika berambisi agar paman tercinta Abu Thalib mendapatkan hidayah. Karena
"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu
kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki- Nya, dan
Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.." (Al-Qashash: 56)

Kegagalan adalah jika si da'i itu sendiri terhapus pahala aktivitas dakwahnya
karena dosanya atau ia sendiri terpental dari aktivitas dakwah, melempar handuk
untuk meninggalkan kancah pertarungan. Lalu ia hanya duduk-duduk bersama
`qa'idin'. Semoga Allah mengokohkan kaki kita dengan kata-kata-Nya yang tetap.

Bukan-Pasar

Senin, 16 Maret 2009


Di tiap pasar selalu ada yang bukan-pasar. Dan itu dibutuhkan. Ada pohon-pohon yang meneduhi kaki lima. Ada sumur di halaman belakang yang dipakai ramai-ramai. Ada peturasan untuk buang air siapa saja. Dan tak jauh dari sana, ada jalan raya dengan rambu-rambu lalu lintas.


Semua itu menopang kehidupan pasar itu, meskipun tak jadi bagian yang dikendalikan pasar dan kesibukannya: tak seorang pun bisa mengklaim pohon, kakus, dan rambu-rambu itu sebagai milik sendiri untuk dipertukarkan dengan milik orang lain.


Dengan cara yang sama, kita juga bisa bicara tentang apa yang pernah disebut sebagai ”pasar metaforik”: kegiatan yang tak terbatas pada sebuah lokasi, ketika barang jadi komoditas dan hubungan antar manusia adalah hubungan jual-beli.


Dalam ”pasar metaforik” ini pun (yang selanjutnya akan ditulis dengan ”P”) diperlukan hal-hal yang tak seharusnya diubah jadi benda yang nilainya lahir lewat perdagangan. Ada kebutuhan akan barang yang bukan benda, yang tak ditentukan oleh harga: hal-hal di luar jangkauan Pasar, meskipun ada di dalam tubuh Pasar itu sendiri.


Tapi sejak 1980-an, orang mulai lupa akan hal itu. Bersama menonjolnya pengaruh Milton Friedman, sebuah dikotomi ditegakkan dan bergema: di satu sisi ada Pasar, di sebelah sana ada Negara. Pasar bahkan berdiri tampak lebih luhur ketimbang Negara. Seri ceramah TV Friedman, Free to Choose, jadi alkitab bagi mereka yang ogah atau jera akan campur tangan Negara dalam ekonomi, mereka yang menampik ”kekuasaan yang sewenang-wenang segelintir orang” yang terkadang disebut sebagai birokrasi dan hendak mengendalikan perilaku yang pada akhirnya dipilih oleh masing-masing orang. Dengan diberi dalih oleh pemenang Hadiah Nobel, tokoh Mazhab Chicago yang fasih dalam berargumentasi itu, ekonomi pun di mana-mana digerakkan oleh semangat deregulasi dan privatisasi. Negara—itu sesuatu yang buruk. Pasar—itu selamanya penting.


George Soros kemudian menyebut pandangan macam itu ”fundamentalisme pasar”; Paul Krugman menamakannya ”absolutisme laissez faire”. Dalam tulisannya di The New York Review of Books bertanggal 26 Maret 2009 Amartya Sen tak memberi nama apa pun. Tapi ia menyebut kesalahan mereka yang tak bisa dengan jelas membedakan ”keniscayaan” (necessity) pasar dari ”keserbacukupan” (sufficiency) pasar.


Dari sini akhirnya diakui, di tiap pasar selalu ada yang bukan-pasar—dan itu dibutuhkan. Sen menunjukkan bahwa para penerus Adam Smith, pemikir yang sering disebut sebagai ”bapak paham kapitalisme” itu, telah keliru bukan karena sang bapak salah. Mereka keliru karena Smith, dalam bukunya yang pertama, The Theory of Moral Sentiment, bukan orang yang menganggap kehidupan bersama adalah sesuatu yang hanya dibentuk oleh Pasar, oleh kepentingan diri dan motif mencari untung. Smith, sebagaimana dikutip Sen, juga berbicara tentang perlunya ”perikemanusiaan, keadilan, kedermawanan, dan semangat bermasyarakat”.


Dan itu adalah sifat-sifat yang tak menentang Pasar. Mereka justru diperlukan Pasar agar berjalan beres. Sebagaimana dicatat oleh sejarah, menurut Sen, kapitalisme tak muncul sebelum ada sistem hukum dan praktek ekonomi yang menjaga hak milik dan memungkinkan berjalannya perekonomian yang berdasarkan kepemilikan. Tukar-menukar komersial tak dapat berlangsung secara efektif sampai tumbuh moralitas bisnis yang membuat perjanjian kontraktual ditaati tanpa ongkos yang tinggi, misalnya karena tak perlu terus-menerus membayar biaya perkara pengaduan dan peradilan. Investasi dalam bisnis yang produktif tak dapat berkembang sebelum orang tak dapat hasil yang mudah dan berlebih dari korupsi.


Pendek kata, menurut Sen, ”kapitalisme yang berorientasi laba selamanya mendapatkan dukungan dari nilai-nilai institusional yang lain”. Nilai-nilai: hal-hal yang bukan komoditas, tak bisa diklaim sebagai milik dan diukur dengan nilai tukar.


Seperempat abad yang lalu Albert Hirschman sudah mengatakan hal itu dalam esainya, ”Against Parsimony: Three Easy Ways of Complicating Some Categories of Economic Discourse”: ketika kapitalisme bisa meyakinkan setiap orang bahwa ia dapat mengabaikan moralitas dan semangat bermasyarakat, public spirit, dan hanya mengandalkan gairah mengejar kepentingan diri, ”sistem itu akan menggerogoti vitalitasnya sendiri”. Sebab vitalitas itu berangkat dari sikap menghormati ”norma-norma moral tertentu”, sikap yang katanya tak diakui dan dianggap penting oleh ”ideologi resmi kapitalisme”.


Kini memang terbukti: Pasar yang hanya mengakui bahwa ”rakus itu bagus”—seperti yang dikumandangkan oleh risalah macam The Virtue of Greed dan In Defense of Greed—pada akhirnya terguncang oleh skandal Bernard Madoff. Orang ini—seorang pebisnis terpandang—berhasil mengeruk US$ 65.000.000.000 dengan menipu orang-orang yang menanam uang dengan penuh kepercayaan di koceknya.


Jelas, akibatnya bukanlah cuma uang yang raib. Yang tak kalah rusak adalah sikap percaya-mempercayai . Bank kini ragu meminjamkan uang, investor ragu menanam dana. Sekarang terasa betapa perlunya ”nilai-nilai institusional” di luar Pasar. Mereka perlu dijaga.


Tapi tak mudah. Problem besar dewasa ini: dari mana nilai-nilai itu akan datang lagi dan bagaimana akan dilembagakan. Siapa yang akan secara sistematis menanam pohon, menegakkan rambu jalan, membuat perigi bersama? Bukankah kini public spirit nyaris tipis dan pengertian ”bebrayan” dirusak oleh ketimpangan sosial dan korupsi? Apa gerangan yang harus dilakukan?


Saya ingin sekali bisa menjawab itu. Sungguh, saya ingin sekali bisa menjawab itu.


Goenawan Mohamad

Jumat, 13 Maret 2009

Harta Yang Berkah

Oleh:
Dr. Amir Faishol Fath Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah Maha baik, dan tidak menerima kecuali yang baik…" (HR. Bukhari Muslim).
Harta yang berkah adalah harta yang disenangi Allah. Ia tidak harus banyak. Sedikit tapi berkah lebih baik dari pada yang banyak tetapi tidak berkah. Untuk mendapatkan keberkahan harta harus halal. Karena Allah tidak mungkin memberkahi harta yang haram. Dalam surat Al Maidah : 100 Allah menjelaskan bahwa tidak sama kwalitas harta haram dengan harta halal, sekalipun harta yang haram begitu menkajubkan banyaknya. Benar, harta haram tidak akan pernah sama dengan harta halal. Harta haram dalam ayat di atas, Allah sebut dengan istilah khabits. Kata khabits menunjukkan sesuatu yang menjijikkan, seperti kotoran atau bangkai yang busuk dan tidak pantas untuk dikonsumsi karena akan merusak tubuh: secara fisik maupun mental. Sementara harta halal disebut dengan istilah thayyib, artinya baik, menyenangkan dan sangat membantu kesehatan fisik dan mental jika dikonsumsi.

Harta haram apapun bentuknya: hasil mencuri, merampok, menipu, korupsi, illegal loging dan lain sebaginya, hanya akan menuntun pemiliknya untuk menjadi rakus dan kejam. Seorang yang terbiasa mengkonsumsi harta haram jiwanya akan meronta-ronta. Merasa tidak tenang, tanpa diketahui sebabnya. Kegelisahan demi kegelisahan akan terus menyeretnya ke lembah yang semakin jauh dari Allah. Lama kelamaan ia tidak merasa lagi berdosa dengan kemaksiatan. Berkata bohong menjadi akhlaknya. Ia merasa tidak enak kalau tidak berbuat keji. Karenanya tidak mungkin harta haram -sedikit apalagi banyak- mengandung keberkahan. Allah sangat membenci harta haram dan pelakunya. Seorang yang terbiasa menikmati harta haram doanya tidak akan Allah terima: Rasulullah SAW pernah menceritakan bahwa ada seorang musafir, rambutnya kusut, pakaiannya kumal, menadahkan tangannya ke langit, memohon: yaa rabbi yaa rabbi, sementara pakaian dan makanannya haram, mana mungkin doanya diterima (HR. Muslim)

Bukan hanya doanya yang ditolak, sedekahnya pun Allah tolak. Ibn Hibban meriwayatkan Rasulullah bersabda: "Orang yang mendapatkan hartanya dengan cara haram, lalu ia bersedekah dengannya, ia tidak akan mendapat pahala dan dosanya tetap harus ia tanggung". Imam Adz Dzahaby menambahkan dalam riwayat lain: "Bahwa harta tersebut kelak akan dikumpulkan lalu dilemparkan ke dalam neraka Jahannam". Maka tidak ada jalan lain untuk meraih keberkahan kecuali hanya dengan merebut harta halal sekalipun sedikit dan nampak tidak berarti.

Ciri utama harta yang berkah adalah jika ia selalu membuat pemiliknya semakin dekat kepada Allah SWT:

a. Menambah ketakwaan

Katakanlah:" Tidak sama yang buruk (harta yang haram) dengan yang baik (harta halal), meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan" (QS.5:100).
Perhatikan dalam ayat ini, setelah Allah menegaskan pentingnya kwalitas harta halal, Ia lalu memrintahkan, untuuk bertakwa, suatu indikasi bahwa tidak mungkin harta haram akan membantu mencapai ketakwaan.

b. Memberikan rasa aman

dalam surat Ibrahim: 24-26, Allah mengumpamakan setiap kebaikan (kalimatun tayyibah) termasuk di dalamnya harta halal dengan sebuah pohon yang kokoh, akarnya menghunjma ke bumi, cabangnya menjulang ke langit, memberikan buahnya setiap saat. Sebaliknya setiap keburukan (kalimatun khabitsah) termasuk harta haram, akan menjadi seperti pohon yang goyah, akarnya hanya melingkar dipermukaan bumi, tidak berbuah serta tidak memberikan rasa aman bagi siapa saja yang berteduh dibawahnya.

c. Mengantarkan kapada amal shaleh

Hai para rasul, makanlah yang baik-baik (halal), dan kerjakanlah amal yang saleh (QS, 23:51). Perhatikan hubungan harta halal dengan amal saleh.

d. Mendorong untuk bersyukur

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah. Di sini tergambar bahwa hanya harta halal yang bisa membuat seorang hamba padai bersyukur. Wallahu alam bishshawab. (sumber: www.alhikmah. ac.id)




____________ _________ _________ _


Kasus Nyata:

Aku Ingin Bersedekah

Di Bontang, Kalimantan Timur ada sebuah perusahaan kaya raya dengan fasilitas yang luar biasa bagi karyawannya. Penghasilan para pegawainya berlipat-lipat dibanding dengan perusahaan swasta maupun nasional lainnya. Tunjangan berupa rumah, mobil, pendidikan anak bahkan makan pun diberikan. Beberapa kali saya berkunjung ke sana maka saya hanya berkomentar, "Betapa beruntungnya mereka yang tinggal dan bekerja di tempat ini!" Mereka hidup di sebuah komplek yang terisolir dari dunia Bontang. Pagar-pagar mereka kokoh berdiri dan lengkap dengan petugas keamanan yang membuat komplek perumahan itu terisolir dari dunia luar.
Penghasilan besar yang mereka dapat, -mungkin sebab sulit untuk mendapatkan mustahik-, maka kewajiban zakat dan sedekah pun barangkali tak tersalurkan. Namun meski demikian hal yang menjadi hak Allah adalah tetap menjadi hak-Nya. Di mana suatu saat Dia pun akan menagihnya.

Kira-kira 17 tahun yang lalu Reni hamil untuk pertama kali. Allah Swt menakdirkan bahwa Reni keguguran. Maka dari Bontang, ia pun diantar oleh suaminya pergi ke Balikpapan dengan pesawat untuk berobat ke seorang dokter terkenal di sana bernama Yusfa. Akhirnya Reni dikuret rahimnya.
Sepulangnya dari Balikpapan, Reni mendapati dari qubulnya selalu keluar darah dalam jumlah banyak. Bahkan lebih banyak dari menstruasi rutin. Apalagi bila ia bangun tidur, ia dapati kasur dan sprei selalu bersimbah darah. Ia panik dan kalut mengatasi hal ini. Maka ia pun kembali lagi ke Balikpapan bersama suaminya untuk berobat ke dokter Yusfa.
Sayangnya sang dokter tidak mengerti sebab pendarahan hebat ini. Maka yang terjadi adalah kali itu Reni dikuret lagi. Sakit dan perih, itulah yang dirasakan Reni!
Namun pendarahan itu masih tetap saja terjadi, padahal hampir setiap dua hari sekali Reni dan suami terbang Bontang-Balikpapan untuk mengkonsultasikan penyebab pendarahan ini. Namun tindakan yang diambil oleh dokter Yusfa hanyalah mengkuret rahim Reni. Reni dan suami hanya bisa pasrah dan berharap pertolongan Allah Swt atas musibah ini.
Kejadian ini berlangsung cukup lama. Hingga tubuh Reni bertambah ringkih, rumah tangga tak terurus, uang tabungan terkuras dan suami tidak bisa bekerja tenang sebab harus sibuk mengurusi Reni. Sepertinya ada sebuah cobaan besar yang sedang Allah Swt timpakan kepada Reni dan suaminya.
Reni & suami terus berdoa kepada Allah Swt agar diberi jalan keluar dari masalah ini.

Hingga akhirnya Allah Swt pun mendengar dan mengijabah doa mereka
Hari itu Reni dan suami hendak terbang ke Balikpapan untuk berkonsultasi dengan dokter Yusfa. Namun ada suara hati yang berbisik pada diri Reni. Ia bawa sejumlah uang dalam jumlah besar. Uang itu bukan ia niatkan untuk bayar biaya pengobatan, akan tetapi ada sebuah cita-cita mulia di sana yang ingin ia wujudkan. Cita-cita itu adalah, "AKU INGIN BERSEDEKAH!" Sejumlah uang itu pun ia masukkan ke dalam tas tangan yang Reni bawa.
Pesawat telah membawa Reni dan suaminya pergi menuju Balikpapan. Setibanya di bandara Sepinggan, Balikpapan Reni berjalan tertatih dipapah oleh sang suami. Dengan susah payah, Reni pun akhirnya tiba di dalam ruang bandara. Di dalam hati Reni berdoa kepada Tuhannya, "Ya Allah, datangkan untukku seorang pengemis yang bisa menerima sedekahku. Izinkan aku untuk bersedekah di hari ini!"
Keinginan untuk bersedekah itu membuncah lagi di hati Reni. Sungguh ia amat berharap untuk bisa bersedekah kali itu.
Pintu keluar bandara sudah dilalui oleh Reni dan suami. Subhanallah, tiba-tiba ada seorang pria berpakaian lusuh menyapa Reni dan menjulurkan tangan tanda minta sedekah. Reni bergembira dan yakin bahwa inilah ijabah doa dari Allah Swt. Tanpa banyak berpikir, ia merogoh tas tangannya. Sejumlah uang yang sudah disiapkan ia berikan ke tangan pengemis itu. Maka pengemis dan suami Reni melongo melihat jumlah uang yang Reni sedekahkan. Reni pun melanjutkan langkahnya bersama suami dan kemudian mereka masuk ke dalam sebuah taksi untuk pergi ke rumah sakit tempat dokter Yusfa berpraktek.
"Untuk apa uang sebanyak itu kau sedekahkan?! " tanya sang suami. Reni menjawab dengan yakin, "Boleh jadi dengan sedekah itu Allah Swt menyembuhkan penyakitku, Pa!" Mendapati jawaban seperti itu suami Reni tidak banyak mendebat. Memang di saat-saat seperti ini, hanya pertolongan Allah saja yang dapat menyelamatkan mereka.
Seperti kali sebelumnya, tidak ada jawaban positif dari dokter Yusfa atas penyebab pendarahan yang keluar dari qubul Reni. "Hingga saat ini, saya belum tahu pasti apa penyebabnya" jelas dokter Yusfa.
Maka Reni dan suami pun kembali ke Bontang tanpa hasil memuaskan.
Pendarahan hebat masih terus terjadi dari rahim Reni setiap hari. Reni hanya bisa bersabar dan pasrah atas takdir yang telah Allah Swt tetapkan pada dirinya. Pagi itu, Reni tengah berada di dapur untuk membuat masakan ringan. Tiba-tiba terasa olehnya ada sesuatu yang tidak beres di perutnya dan ia pun ingin pergi ke toilet. Rasa ingin buang air itu seperti tak terkendali.. . Hingga Reni harus berlari sebab khawatir ia tak kuasa menahannya. Atas izin Allah Swt ia kini sudah berada di kamar mandi. Namun hanya pakaian luar saja yang sempat ia buka, sedangkan pakaian dalam tak sempat ia tanggalkan. Rupanya ada segumpal daging penuh darah yang keluar dari qubul Reni dan ternyata ia tidak mau buang air. Segumpal daging penuh darah itulah rupanya yang membuat Reni terdesak untuk buang air.

Merasa aneh dengan segumpal daging itu, maka Reni mengambil sebuah kantong plastik kecil dan memasukkannya ke dalam kantong tersebut. Reni berpikir bahwa ia harus menanyakannya kepada dokter Yusfa tentang benda aneh ini.
Pagi itu adalah jadwal Reni berkonsultasi dengan dokter Yusfa. Ia seperti biasa pergi ke Balikpapan didampingi oleh suaminya. Konsultasi kali itu, seperti biasa tidak memberikan perkembangan ke arah positif sama sekali. Hampir saja Reni putus asa dengan keadaan ini. Namun tiba-tiba ia teringat akan kejadian aneh kemarin pagi. Lalu ia pun merogohkan tangannya ke dalam tas dan mencari-cari plastik kecil berisi segumpal daging penuh darah. Ia keluarkan plastik kecil itu dan ia sodorkan kepada dokter Yusfa. Kejadian aneh kemarin pagi itu diceritakan oleh Reni kepada dokter Yusfa. Dokter Yusfa menerima plastik berisikan benda aneh itu. Dahinya berkerut tanda bahwa ia berpikir keras tentang benda ini. Dan beliau pun berkata, "Ibu dan bapak mohon tunggu sebentar di sini. Saya akan pergi ke laboratorium untuk memeriksakan hal ini!"

Saat dokter Yusfa pergi meninggalkan ruangannya, Reni dan suami hanya berharap bahwa dokter Yusfa akan datang membawa sebuah berita gembira untuk mereka.
Kira-kira 20 menit kemudian dokter Yusfa datang sambil berlari. Ya berlari, bukan berjalan! Begitu pintu terbuka dokter pun berteriak dengan nada keras, "Alhamdulillah bu Reni.... Alhamdulillah. ...!!! Saya baru mengerti rupanya pendarahan selama ini disebabkan kanker rahim yang ibu alami... dan benda ini adalah kanker rahim tersebut. Cuma saya hanya mau bertanya bagaimana cara kanker ini bisa gugur dengan sendirinya.. .?!"
Subhanalllah. ... rupanya penyebab pendarahan hebat selama ini adalah sebuah kanker yang tidak dapat terdeteksi. Pertanyaan terakhir dari dokter Yusfa tak mampu dijawab langsung oleh Reni. Namun Reni hanya mampu bersyukur kepada Allah bahwa akhirnya pertolongan itu datang juga untuknya setelah penantian yang cukup lama. Akhirnya pendarahan pun terhenti begitu saja, dan rupanya pertolongan Allah Swt tiba setelah Reni bersedekah dengan sejumlah harta yang sudah ia cita-citakan.

"Sembuhkan penyakit kalian dengan cara sedekah. Lindungi harta yang kalian miliki dengan zakat." (HR. Baihaqi)
Sedekah sungguh sebuah perkara yang mengagumkan. Apakah anda pernah mengalaminya? !

SUFISME DALAM DIRI MARIO TEGUH

Buat yang nge-fans Mario Teguh,,,,semoga bermanfaat.
Petikan Wawancara Mario Teguh dengan SUFINEWS, untuk menjawab siapa sebetulnya beliau..
Pak Mario , Saat memberikan terapi atau memotivasi, diantara Ilmu Kejiwaan Barat dan Ilmu Kejiwaan dalam agama, mana yang anda gunakan?
Kalau Anda perhatikan penjelasan saya diatas, sebenarnya "peta" yang ada dalam Kecerdasan Emosional yang saya tawarkan merupakan gugusan pilar dari kebenaran, keindahan dan kebaikan. Hal ini didasari oleh fitrah kehidupan bahwa manusia dalam hidup itu tak lepas dari menginginkan kebaikan, menyukai keindahan dan mencari kebenaran. Tapi dalam realitas kehidupan, tiga hal ini lebih sering dirasakan oleh manusia sebagai tiga hal yang berdiri sendiri-sendiri. Misalnya kebenaran yang dicari ternyata malah membawa kepedihan, keindahan yang disukainya ternyata tidak membawa kebaikan, atau kebaikan yang diusahakan malah bertentangan dengan kebenaran. Pada saat yang demikian manusia tidak dapat menikmati keadaan itu secara sempurna lalu mengidap split personality atau kepribadian yang terpecah belah. Nah kira-kira melalui apa manusia dapat menemukan dan merasakan kebenaran, keindahan dan kebaikan sejati (haqiqi; red)? Dalam beragama bukan?!

Wah penjelasan Anda nyufi banget loh ?!
Ha…ha…ha…terimakasih, Mas. Tapi terus terang. Dalam menjalankan tugas (baik sebagai pembicara publik maupun motivator) saya menghindari komponen-komponen komunikasi yang terlalu mengindikasikan agama Islam secara formal atau verbal.

Kenapa ?
Buat saya, ketika kita betul-betul dengan sadar sesadarnya mengatakan "ya !" terhadap keberadaan dan keesaan Allah (laa ilaaha illallaah; red) kita tak perlu repot-repot lagi memikirkan lebel-lebel formal ketuhanan. Pokoknya terus berlaku jujur, menjaga kerahasiaan klien, menganjurkan yang baik, menghindarkan perilaku, sikap dan pikiran buruk, saya rasa ini semua pilihan orang-orang beriman. Itu alasan pertama.
Alasan kedua, Islam itu agama rahmat untuk semesta alam loch. Berislam itu mbok yang keren abis gitu loch ! Maksudnya jadi orang Islam mbok yang betul-betul memayungi (pemeluk) agama-agama lain. Agama kita itu sebagai agama terakhir dan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya. Agama kita puncak kesempurnaan agama loch. Dan karenanya kita harus tampil sebagai pembawa berita bagi semua. Kita tidak perlu mengunggul-unggulka n agama kita yang memang sudah unggul dihadapan saudara-saudara kita yang tidak seagama dengan kita. Bagaimana Islam bisa dinilai baik kalau kita selaku muslim lalu merendahkan agama (dan pemeluk) agama lain.

Apakah dalam pandangan Anda semua agama itu sama ?
Ha…ha…ha…ya jelas tidak sama toch, Mas. Tapi oleh Tuhan manusia diberi kebebasan memilih diantara ketidak samaan itu. Saya tidak akan mengatakan bahwa perbedaan itu rahmat, tapi saya akan menunjukkan Windows Operating System yang dikeluarkan Microsof. Masih ada toch Mas orang yang masih menggunakan Windows 95? Masih ada juga kan orang yang menggunakan Windows 98 atau Windows 2000? Dan Anda sendiri sekarang menggunakan Windows XP kan?. Begitu juga dengan agama-agama Tuhan, Mas. Ada versi-versi yang sesuai untuk zamannya, untuk kelengkapan fikiran di zaman itu dan disana ada jenis kemampuan masing-masing orang dalam menyikapinya. Masak Anda mau memaksa orang lain untuk memakai XP pada orang yang kemampuannya cuma sebatas memiliki Windows 95? Tidak toch!? Alangkah indahnya kalau semua orang Islam ketika bicara dapat diterima semua pemeluk agama lain.

Contohnya seperti apa pembicaraan yang dapat diterima semua pemeluk agama ?
"Anda adalah direktur utama dari perusahaan jasa milik Anda sendiri. Anda adalah CEO dari kehidupan Anda sendiri. Anda sebenarnya, sepenuhnya bertanggungjawab atas bisnis kehidupan Anda dan apapun yang akan terjadi pada diri Anda sendiri. Anda bertanggungjawab atas semuanya antara lain, produksi, pemasaran, keuangan, RND dan lain sebagainya diperusahaan kehidupan Anda. Demikian pula Anda sendirilah yang menentukan berapa besar gaji Anda, berapa income Anda. Bila Anda tidak puas dengan penghasilan yang Anda terima, Anda bisa melihat didekat cermin Anda dan menegosiasikan pada bos Anda, yakni Anda sendiri yang ada didalam cermin," begitu kira-kira. Nah, menurut saya etos demikian tak dapat dibantah oleh semua ajaran agama-agama yang ada didunia.

Apa yang anda contohkan bukan malah menujukkan bahwa manusia adalah segala-segalanya. Terkesan, seolah-olah Tuhan tak memiliki peran apa-apa disana ?
Di atas saya mengatakan bahwa alasan kita tersenyum di pagi hari kepada isteri dan anak-anak, menyambut mereka dengan santun, berusaha datang tepat waktu untuk memenuhi janji, itu semua bukan semata-mata karena didasari atas kesantunan kita sebagai manusia, melainkan kita ingin mengabdi kepada-Nya. Begitu juga dengan contoh barusan, itu sebenarnya merupakan cermin atas pesan agama yang meminta totalitas kita dalam menjalankan sebuah amanah.. Apalagi jika kita bicara tentang "cermin", akan sangat panjang pembicaraan kita. Dan setiap spirit tidak selalu harus ada embel-embel nama surat atau ayat dari kitab suci tertentu. Bukankah seorang jenderal paling ateis pun ketika melepaskan pasukannya ke medan perang tak dapat menghindarkan diri dari ucapan, "Semoga kalian sukses!". Kalimat "Semoga" disitu menyimpan harapan campur tangan kekuatan dari Yang Maha Kuat. Biarlah Tuhan menjadi sesuatu yang tersembunyi dikedalaman relung hati kita yang paling dalam.

Apa arti sukses menurut anda ?
Perjalanan 50 tahun hidup yang sudah saya jalani menyimpulkan bahwa sukses itu tidak selalu berarti mendapat piala atau pujian, meski tak ada salahnya jika kita mendapatkan keduanya. Hanya saja itu semua bukan kriteria dari sukses itu sendiri. Karenanya tak jarang orang kemudian sulit menemukan kesuksesan-kesukses an yang pernah diraihnya.
Secara sederhana sukses adalah bagaimana kita keluar dari comfort zone kita dan mencoba menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan definisi ini Anda akan melihat begitu banyak kesuksesan yang bisa Anda lihat pada diri Anda. Kalau kemarin Anda baru bisa membantu satu orang, hari ini Anda bisa membantu dua dan besok Anda bisa membantu lebih banyak lagi, maka anda sukses. Dengan perasaan yang positif mengenai kesuksesan yang pernah Anda raih, maka Anda akan merasa semakin sukses dan semakin percaya diri dengan cita-cita, visi dan misi hidup Anda.
Saya sangat tidak setuju dengan ungkapan, "Biarlah kita sekarang susah, asal nanti kita sukses". Ini jelas enggak pernah bakal sukses. Saya bertanya, dimana anak tangganya? Bukankah untuk meraih kesuksesan besar harus diawali dengan kesuksesan kecil dan sedang?. Ada pepatah yang mengatakan, "Sukses akan melahirkan sukses yang lain." Nah dari pepatah ini dapat diambil pelajaran, apabila kita semakin mudah untuk melihat kesuksesan kita dari hal-hal yang kecil, maka mudah bagi kita untuk mengumpulkan, mengakumulasikan dan melangkah mencapai sukses yang lebih besar. Percaya dech, dengan sukses kecil-kecil itu, cepat atau lambat sukses yang lebih besar akan menjemput Anda.

Penjelasan Anda mengingatkan saya akan nasehat Sufi Besar, Imam Ibnu 'Atha'illah, yang mengatakan, "Tanamkanlah ujudmu dalam bumi yang sunyi sepi, karena sesuatu yang tumbuh dari benda yang belum ditanam, tidak sempurna hasilnya." Pertanyaannya, bagaimana memupuk rasa rendah hati dalam diri kita ?
O, ya ? Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memupuk kerendahan hati diantaranya adalah dengan menyadari kembali bahwa seluruh yang kita punyai adalah anugerah-Nya, berkah-Nya atau rahmat-Nya. Karenanya katakan pada diri sendiri, "Aku masih ingin belajar", "Aku masih ingin mendapatkan input dari sekelilingku" , "Aku masih ingin mendapatkan pengetahuan- pengetahuan dari mana saja agar dapat lebih baik".

"Aku masih ingin belajar", "Aku masih ingin mendapatkan input dari sekelilingku" , "Aku masih ingin mendapatkan pengetahuan- pengetahuan dari mana saja agar dapat lebih baik". Jika ditilik dari kehidupan kita, umat Islam, nampaknya metode memupuk kerendahan hati yang Anda sampaikan masih menjadi problem besar tersendiri ya ?
Persis seperti yang saya perhatikan selama ini. Saudara-saudara kita sesama muslim masih terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan bergaul hanya pada lingkungannya sendiri. Malah yang lebih memprihatikan, dengan sesama muslim kalau ngundang pembicara dia tanya dulu, "Orang itu madzhabnya apa ?." Dia tidak akan menerima orang yang tidak satu madzhab, satu aliran, dengannya. Padahal dinegara-negara maju sudah menjadi pemandangan yang biasa orang-orang Yahudi mengundang pembicara Islam, Hindu atau Kristiani, atau sebaliknya.
Mereka sudah mantap dengan iman mereka sehingga mereka tidak khawatir dengan pembicara yang datang dari luar komunitas mereka. Mereka sangat yakin, bahwa dengan cara demikian (menghadirkan pembicara "orang luar"), mereka dapat memperkaya wacana dan kehangatan batin. Kita, atau persisnya sebagian umat Islam, lupa bahwa salah satu cara mensyukuri perbedaan ditunjukkan bukan pada lisan akan tetapi dengan mendengarkan pendapat orang lain yang beda keyakinan agamanya.

Anda punya pengalaman keberislaman Anda yang inclusive itu?
Iya. Pernah beberapa peserta saya mengklaim materi yang baru saja selesai saya sampaikan menurut sudut pandang keyakinan agama mereka. Seorang peserta yang beragama Kristiani mengatakan bahwa materi saya ada juga di ajarkan dalam Injil. Peserta lain yang beragama Islam mengaku bahwa materi yang saya sampaikan ada di Al-Quran surat al-Maidah. Peserta yang Budha menganggap bahwa materi saya itu penerapan dari Dharma-dharma Budha. Saya hanya mengembalikan semua apresiasi itu kepada-Nya.

Pengalaman lain ?

Masih banyak orang yang salah faham terhadap Islam. Ada satu pengalaman yang mengherankan sekaligus membuat saya prihatin. Dalam satu seminar di acara coffee break isteri saya didatangi salah seorang peserta penganut agama Kristen yang taat. Masih kepada isteri saya, orang itu memberi komentar bahwa saya menerapkan ajaran Injil dengan baik. Lalu dengan lembut, penuh kehati-hatian, isteri saya memberitahu bahwa saya seorang muslim. Sontak orang itu terperanjat saat mengetahui bahwa saya seorang muslim. Yang membuat isteri saya (dan kemudian juga saya) prihatin adalah ucapannya, "Loch, koq ada ya orang Islam yang baik macam Pak Mario !?" Saya pun terkekeh mendengarnya. Nah ini kritik dan sekaligus menjadi tugas kita semua untuk memperbaiki citra Islam.