REPUBLIKA - Sabtu, 16 Oktober 2010 pukul 14:01:00
Oleh Prof Dr Achmad Satori Ismail
Sudah merupakan ketentuan Ilahi, semua ibadah dalam Islam menyimpan berbagai hikmah nan mulia. Hikmah itu ada yang bersifat lahir, bisa diketahui setiap Mukmin, dan ada pula yang tersembunyi, hanya diketahui oleh orang-orang alim yang rasikh (mendalam ilmunya).
Haji termasuk ibadah yang hikmahnya bi sa dilihat secara kasat mata, seperti pengorbanan dengan harta dan jiwa, kepedulian pada sesama, dan lain sebagainya. Selain itu, haji pun memiliki banyak hikmah yang sulit kita indra, kecuali oleh para khawwas (ulama istimewa).
Haji mabrur atau diterima oleh Allah SWT adalah haji yang dilaksanakan secara sempurna dengan memenuhi semua syarat, wajib, dan rukunnya. Tidak ada rafats (bersebadan, omong kotor atau jorok), fusuq (kedurhakaan atau pelanggaran terhadap ajaran agama Allah), dan tidak ada jidal (bantah-bantahan) selama ibadah tersebut. (Al-Baqarah [2]: 197).
“Barang siapa yang melakukan ibadah haji karena Allah kemudian tidak berkata kotor dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan fasik atau durhaka, ia akan pulang tanpa dosa sebagaimana ketika ia dilahirkan ibunya. ( Muttafaq alaih).
Ibadah haji bila ditunaikan dengan syarat, rukun, wajib dan sunahnya secara baik akan menghasilkan Muslim bertakwa yang mencerminkan keindahan dalam semua sepak terjangnya.
Sasaran utama haji adalah membersihkan diri dari syirik dan pera ngai tercela, menghiasi diri de ngan akhlak terpuji, serta membekalinya dengan takwa.
Hikmah lainnya adalah mempererat persaudaraan, baik dari aspek sosial, politik, eko nomi, dan agama. Islam adalah agama ukhu wah dan kesatuan: akidah, perasaan, dan pendapat. (QS Al-Anbiyaf [21]: 92)
Semua manasik yang disyariatkan dalam haji merealisasi ukhuwah Islamiyah. Se tiap jamaah yang berihram berpakaian sama, tidak ada perbedaan.
Ibadah haji memberikan peringatan abadi kepada setiap Muslim bahwa mereka adalah umat yang satu, dengan kiblat, kitab, dan manasik yang satu. Mereka be rtemu di Masyfaril Haram terus ke Arafah dan berkumpul di padang Arafah untuk bertaaruf, menebar kasih sayang, untuk memperkokoh ukhuwah Islamiyah.
Meski ibadah haji bisa diselesaikan dalam tiga hari, Allah memberikan waktu cukup panjang, yaitu Syawal , Dzulqadah, dan Dzulhijjah. Supaya umat Islam menyaksikan berbagai hikmah dalam ibadah haji.
(-)
Selasa, 19 Oktober 2010
Tadabur Bencana
Kamis, 14 Oktober 2010 pukul 08:45:00
Oleh Hilman Hakiem Hafidhuddin
Berbagai musibah dan bencana kembali menimpa saudara-saudara kita di sejumlah daerah. Salah satunya bencana banjir bandang yang melanda Kota Wasior, Papua Barat. Sekitar 147 orang meninggal dunia, 103 orang masih hilang, dan ribuan orang mengalami luka-luka akibat bencana itu. Ditambah lagi kerugian material yang cukup besar. Bencana ini telah menambah panjang daftar musibah yang telah menimpa bangsa kita.
Tidak ada suatu bencana dan kejadian apa pun di dunia ini, kecuali memang atas kehendak dan izin Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Hadid [57]: 22-23. "Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."
Setidaknya, ada dua pesan penting dari ayat tersebut yang harus terus-menerus kita tadabburi (direnungkan). Pertama, menambah serta memperkuat keimanan dan keyakinan kepada Allah SWT. Dialah satu-satunya Zat yang mengendalikan dan mengurus alam semesta ini, termasuk manusia di dalamnya. Sebagai contoh, kita diperintahkan untuk berikhtiar atau berusaha dengan semaksimal mungkin (misalnya dalam membangun sarana dan prasarana serta infrastruktur dalam konteks membangun bangsa), tetapi hasil akhirnya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.
Ketundukan hati dan pikiran terhadap segala aturan-Nya merupakan sebuah keniscayaan. Kita tidak boleh sombong dan arogan menolak aturan dan ketentuan-Nya, termasuk tidak boleh mengeksploitasi alam ciptaan-Nya tanpa kendali hanya untuk memuaskan keserakahan hawa nafsu serta memperkaya diri dan kelompok. Kerusakan alam semesta ini sebagian besar diakibatkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, sebagaimana firman-Nya dalam QS Ar-Ruum [30]: 41.
Kedua, memperkuat kembali semangat solidaritas dan kesetiakawanan sosial di antara sesama komponen bangsa. Musibah sejatinya sering serta dapat merekatkan dan mendekatkan hati di antara sesama umat manusia. Rasa empati dan simpati serta keinginan untuk membantu sesama biasanya terbangun dengan baik. Penderitaan dan musibah mereka adalah musibah kita semua.
Karena itu, marilah berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar semua musibah yang telah menimpa ini membuat kita menjadi bangsa yang kuat imannya dan baik pertahanan dirinya, sekaligus memperkuat solidaritas dan kesetiakawanan sosial antarsesama anak bangsa. Wallahu A'lam.
Oleh Hilman Hakiem Hafidhuddin
Berbagai musibah dan bencana kembali menimpa saudara-saudara kita di sejumlah daerah. Salah satunya bencana banjir bandang yang melanda Kota Wasior, Papua Barat. Sekitar 147 orang meninggal dunia, 103 orang masih hilang, dan ribuan orang mengalami luka-luka akibat bencana itu. Ditambah lagi kerugian material yang cukup besar. Bencana ini telah menambah panjang daftar musibah yang telah menimpa bangsa kita.
Tidak ada suatu bencana dan kejadian apa pun di dunia ini, kecuali memang atas kehendak dan izin Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Hadid [57]: 22-23. "Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan, Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri."
Setidaknya, ada dua pesan penting dari ayat tersebut yang harus terus-menerus kita tadabburi (direnungkan). Pertama, menambah serta memperkuat keimanan dan keyakinan kepada Allah SWT. Dialah satu-satunya Zat yang mengendalikan dan mengurus alam semesta ini, termasuk manusia di dalamnya. Sebagai contoh, kita diperintahkan untuk berikhtiar atau berusaha dengan semaksimal mungkin (misalnya dalam membangun sarana dan prasarana serta infrastruktur dalam konteks membangun bangsa), tetapi hasil akhirnya kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.
Ketundukan hati dan pikiran terhadap segala aturan-Nya merupakan sebuah keniscayaan. Kita tidak boleh sombong dan arogan menolak aturan dan ketentuan-Nya, termasuk tidak boleh mengeksploitasi alam ciptaan-Nya tanpa kendali hanya untuk memuaskan keserakahan hawa nafsu serta memperkaya diri dan kelompok. Kerusakan alam semesta ini sebagian besar diakibatkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, sebagaimana firman-Nya dalam QS Ar-Ruum [30]: 41.
Kedua, memperkuat kembali semangat solidaritas dan kesetiakawanan sosial di antara sesama komponen bangsa. Musibah sejatinya sering serta dapat merekatkan dan mendekatkan hati di antara sesama umat manusia. Rasa empati dan simpati serta keinginan untuk membantu sesama biasanya terbangun dengan baik. Penderitaan dan musibah mereka adalah musibah kita semua.
Karena itu, marilah berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar semua musibah yang telah menimpa ini membuat kita menjadi bangsa yang kuat imannya dan baik pertahanan dirinya, sekaligus memperkuat solidaritas dan kesetiakawanan sosial antarsesama anak bangsa. Wallahu A'lam.
Langganan:
Komentar (Atom)
